Errr, karena satu dan lain hal, maka cerita bersambungnya tidak dapat dilanjutkan sekarang. Ndak pa pa kan? JK Rowling aja ngeluarin bukunya lama banget tapi nggak ada yang protes tuh, kenapa sekarang aku nggak nulis beberapa hari aja protes? (gampang aja, karena kamu bukan JK Rowling..)
Well, mau cerita yang lain deh, hari minggu tanggal 2 april kemaren, aku pergi ke walimahnya teman. Ditemani Arm (22), Yud (bentar lagi 21), dan Dod (april ini 21).
Yang nikah namanya Hasan, orang Turki, umurnya kalo ngga salah sepantaran sama kita deh.. (kecuali aku, kan aku masi remaja belasan tahun) kuliah Energietechnik FH Hannover semester 2, sering ketemu di mesjid Pakistan dan di FH, semester kemaren bareng-bareng aku dan Arm ngambil EGR 1 sama Prof. Haupt.
Pengantin perempuannya… well, udah ah, ngapain juga ngomongin istri orang ^_^
Jadi waktu itu qta ketemu Hasan. Trus Arm nanya (percakapan ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia): Oy Hasan, kemaren kamu ikut berenang nggak? Trus Hasan berkata: Nggak tuh, kemaren aku akad nikah, walimahnya 2 minggu dari sekarang, kalian semua diundang…
Jadi begitulah, akhirnya kami berempat berniat pergi ke sana, walaupun yang kami tau hanya alamatnya saja. Aku udah ngeliat cara pergi kesana di internet, tapi yang tertera hanya: naik bus 136 sampai Halte x, lalu jalan kaki 7 menit. Benar-benar tidak akurat… Tadinya kami mau nanya ke orang yang lewat, tapi hari itu hujan, jadi tidak ada orang yang jalan-jalan sore. Alhamdulillah di deket halte x itu ada kios, dan pemiliknya orang baik, jadi kami dituntun ke jalan yang benar..
Di depan gedungnya kami bertemu Murat, teman sesama Nachrichtentechniker (lihat postingan yang sudah lalu). Dia si udah mau pulang, tapi sebelum itu dia berbaik hati mengantarkan kami ke ruangan acaranya.
Ternyata di sana.. Doeeeeng, penuh orang Turki. Udah gitu semuanya pake tuxedo (tapi tidak) bertopeng. Kontan kehadiran kami yang memakai baju sederhana menarik perhatian:
- Alb (pake kemeja tapi dikeluarin, yah biasa lah, yang sering ketemu di Indo pasti ngerti yang dimaksud, pake topi eiger item yang beli di Gramedia tanggal 24 Juni 2005, sepatu lari item yang dibeli di alun-alun)
- Arm (kemeja dan berjaket, sepatunya dari Indo menurut pengakuannya)
- Dod (pake mantel beli di Wormland seharga xxx Euro, berkupluk dan rambutnya dikuncir, sayangnya karena pergi terburu-buru rambutnya nggak sempat dicatok)
- Yud (kemeja biru, jaket coklat, pantopel item yang baru pertama kali dipake, dan rambut diatur sedemikian rupa biar kaya Matias Muchus)
Di sana kami juga bertemu Sezai (temennya Yud dan Dod, anak mesin), Gokhan, Erdem dan satu orang lagi yang sering ketemu tapi nggak tau namanya (anak Energietechnik) dan banyak orang-orang yang sering kami temui di masjid Pakistan... Oya, karena aku nggak bisa bahasa Turki, jadi mohon maaf kalo nama2 orang Turki banyak yang salah diketik.
Kami sempat canggung juga dikarenakan perbedaan kultur dan bahasa. Karena khutbah nikahnya, lagu-lagunya, sampe obrolannya dalam bahasa Turki, maka kami nggak ngerti apa-apa. Atas petunjuk Sezai, kami pergi ke depan dan menyalami pasangan yang sedang berbahagia itu. Cuma Hasan si yang disalamin, istrinya… Lah, ngomongin istri orang lagi de…
Setelah itu cukup lama kami hanya berdiri dan ngobrol dalam bahasa Indonesia (soalnya tempat duduknya penuh semua dan semua tamu lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing) Tadinya aku udah ngajak yang lain untuk pulang, soalnya udah jam 6 dan kita belom shalat Ashar (hari itu maghribnya jam 8) sedangkan di gedung itu tidak tampak ada tempat sepi dan bersih untuk shalat (bahkan yang lain aja pada shalat di mobil, tapi karena kami tidak punya mobil...). Tapi sepertinya yang lain masih menunggu makanan disiapkan (sejujurnya, aku juga… ^_^). Maka dari itu kami melanjutkan ngobrol-ngobrol dalam bahasa Indonesia.
Tidak lupa aku ngomporin teman-temanku yang lain. Barangsiapa yang ingin dapet cewe Turki, sekarang saat yang tepat, karena banyak keluarga Turki yang dateng, dan kebanyakan cewe Turki yang dateng jilbabnya rapih. Jadi barang siapa berminat bisa bilang langsung ke bapaknya… Nggak pa pa dapet istri cantik, baik, kaya, yang penting kan agamanya.. ^_^ Oya, tempat duduknya dipisah, tapi tidak pake hijab. Mungkin karena tempatnya agak sempit sedangkan yang dateng banyak, kalo dikasi hijab jadi nggak bisa. Untung juga sih... ^_^
Tapi tampaknya tidak ada yang tertarik, kalo aku sih.. Yah, aku kan masih kecil, baru 19 tahun, masih belum waktunya bwat yang begituan…
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya kami dapat makanan juga. Doner kebap, lengkap dengan nasi, salat, dan dagingnya. Sebenernya si kami masih mau nambah lagi, tapi karena sudah jam setengah 7 dan kami masih belum shalat. Maka dengan berat hati kami mengundurkan diri dari sana…
Berdasarkan petunjuk Sezai, kami tidak naik bis seperti waktu kami datang, tetapi kami mencoba mencari jalan pintas ke stasiun trem terdekat. Dan karena kurangnya pengetahuan kami tentang daerah sana, kami terpaksa jalan
1,1 Kilometer sebelum akhirnya kami bisa naik trem.